Judul buku : ATHEIS
Pengarang : Achdiath K.Miharja
Tahun : Cetakan ke tiga puluh,tahun
2008
Penerbit : Balai pustaka
Dimensi : 20,5 cm
ISBN : 979-407-185-4
Jumlah
halaman: 250
Hidup tak bertuhan ibarat raga tak bernyawa dan diantara kita mungkin
masih kerap bertanya-tanya,siapakah tuhan itu? Tuhan merupakan sosok nyata atau
hanya sepenggal kata kunci sarat makna,semua tergantung hati dan jiwa
masing-masing yang menafsirkannya,antara ada dan tiada semua masih menjadi
misteri bagi kaum-kaum yang tak mengenalnya,setidak nya sejak 4000 tahun silam”Tuhan”merupakan tema terpenting dalam sejarah
kesadaran manusia.
Dalam perjuangan mencari tuhan yang sebenar-benarnya tuhan dalam
selimut keragaman agama di dunia bukan perkara mudah,di indonesia sendiri ada 6
jenis agama yang di akui yaitu; islam,hindu.budha,kristen katolik,kristen
protestan dan konghuchu, bagai mencari jarum diantara tumpukan jerami mungkin
pepatah itulah yang paling tepat untuk menggambar kan nya,bagi mereka yang
tersesat dan tak mampu memecahkan kata kunci,mungkinkah menjadi seorang atheis adalah jalan dan pilihan terakhir ? hidup
memanglah sebuah pilihan namun hidup tak selalu berjalan sesuai pilihan.
“siktransit
gloriamundi”di dunia tak
ada yang tetap, tak ada yang kekal, tak ada yang abadi yang kekal hanya lah
yang kekal yang abadi hanya yang abadi siapakah sosok itu? Semua masih menjadi
pertanyaan tak terjawab sebelum anda membaca dan menghayati pesan-pesan yang
tertuang dalam sastra klasik salah satu sastrawan indonesia yang telah
menggoreskan pena nya pada era sebelum dan sesudah kemerdekaan RI yang bernama
lengkap (ARDIATH,K.
MIHARJA) sejak cetakan pertama tahun 1949
sampai cetakan ke tiga puluh tahun 2008 wajar kiranya bila “Ahmad
tohari”,penulis buku ronggeng dukuh paruk mengakui bahwa novel atheis ini
merupakan salah satu monumen sejarah sastra Indonesia.
Novel sastra klasik ini mengisah kan pergemulatan batin anak manusia
tentang pencarian tuhan,kisah cinta dan pedih nya perjuangan hidup di bawah
jajahan bangsa jepang pada masa itu,yang tak kalah menarik nya penggunaan tiga
tokoh utama sekaligus, menambah keragaman dan warna yang berbedapada novel
ini,yang di awali dengan berakhir nya riwayat hidup salah satu tokoh
utamanya”Hasan” yang tak sanggup menahan siksaan algojo-algojo kenpei jepang
yang kejam itu, membuat api harapan yang masih menyala dalam hati Kartini sang
kekasih walaupun api itu hanya berkedip-kedip kecil seperti lilin tengah malam
yang tercekik oleh gelap gulita benar –benar padam,satu-satu nya sandaran hati
kartini telah tiada,namun para pembaca jangan terkecoh dengan cerita awal nya
karena novel ini penuh dengan jalan cerita yang tak terduga-duga yang membuat
kita semakin penasaran.
Keras dan perih nya kehidupan membuat salah satu dari tiga tokoh utama
ragu akan adanya Tuhan keluar dari jalur keimanan dan mulai memutar haluan
hidup nya dalam kesesatan”kamu telah
berdosa! Ayahmu sampai mati karena tak sanggup menahan penderitaan karna
memikirkan pendirian mu yang sesat!kamu telah ingkar dari agama mu sendiri,
kamu murtad! Kamu atheis” (hal 233) ,melalui cerita ini ardiath k. Miharja
menyampaikan tentang apa itu atheis,gejolak yang timbul di kalangan kaum muda
akibat munculnya golongan perusak merupakan salah satu cobaan terberat, selain
itu latar alam yang terjadi di derah pasudan dengan berbagai tradisi keagamaan
sangat mendukung perkembangan watak tokoh utamanya.
Novel ini juga menyajikan beragam kisah yanh di harapkan dapat lebih di
nikmati oleh semua golongan pembaca dari berbagai lapisan usia yang sarat
dengan nasehat dan tidak membosankan karena mengulas beragam kisah dari
berbagai segi kehidupan.
Setiap penggal kisah dari novel “Atheis” ini selalu di bubuhi kisah-kisah religius
yanng menyadarkan kita bahwa tuhan tak akan memberikan cobaan pada umatnya di
luar batas kemampuan kita,dalam novel ini sang penulis akhdiat .k. miharja
memberi gambaran jelas pada kita agar dapat bercermin dan membandingkan situasi
di dunia yang huni pengarang pada masa
itu dengan dunia yang kita pijak saat ini yang amat sangat berbeda,melalui gaya
bahasa,budaya dan sejarahmemberi kesan seolah olah kita sendiri yang mengalami
nya dan kembali ke era panjajahan jepang dan yang perlu kita renungi
dalam-dalam apalah arti sebuah penyesalan jikalau kesempatan untuk
memperbaiki nya telah pupus maka pergunakanlah kesempatan yang hadir di hadapan
kita dengan penuh kearifan dan rasa syukur terhadap TUHAN sang penguasa alam.
No comments:
Post a Comment
Terimakasih atas kunjungan maupun komentarnya..