Segaris lurus hamparan banyu biru
lautan
Tenang…..
Hanya bernadakan ombak kecil yang
hadir bergantian
Mengisi keheningan pantai yang terkadang larut dalam riuh kebisingan
Manusia manusia pencari
kebahagiaan
Tertawa bersama ombak yang menyapa..
Tertawa bersama ombak yang menyapa..
Tak ada kekhawatiran…..
Hanya kebahagiaan dan kesenagan
yang lekat dalam bayangan
Tapi apa yang terjadi……..
Ketika keindahan berubah menjadi
kehancuran
Minggu 26 desember
Kiamat sugra menghantam
setitik ranah Nusantara
Aceh berduka…..
Gempa meluluh lantakan ujung pulau Sumatra
Hingga mengundang ombak murka
dari sisi laut yang bersahaja
Tsunami tiba menghantam para
korbanya…..
Mengundang si hitam pencabut
nyawa
Menjemput jiwa-jiwa..
Hingga bayi bayi tanpa dosa merenggang
nyawa
Hilang sudah kesempatanya
bermanja dalam dekapan ayah bundanya
Jerit kesakitan manusia mengema
bersama teriakan duka
Yang mengaharap iba dari Allah
sang pengusa takdirnya
Masih lekat dalam renungan
duka…..
Jasad saudara kita terkapar bersama sejuta luka
Bisu…Membeku dalam mimik wajah
yang terekam diakhir hayatnya
Menyayat hati dunia yang
memandang kepedihannya
Darah tak lagi merah ….
Segalanya menyatu bersama lumpur
dan air mata
Dari tangisan duka para penduka yang kehilangan keluarga
Yatim piatu menjerit
ketakutan dalam sejuta tanya
Ayah di mana….ibu di mana?
Dimana segala keindahan yang
dahulu kami punya?
Segalanya terkubur di bawah nisan tanpa ukiran nama
Kebingungan ,tanpa arah dan tujuan
Mencari…mengais puing-puing kebahagiaan yang pernah ia
rasakan
Tapi apa mau dikata, kuasa Tuhan diatas segalanya
Hidup mati kita atas kehendak
takdir-Nya
Jangan pernah menyalahkan alam
apalagi Sang Pencipta
Yakinlah pada skenario takdirnya
Berserah dan berusahalah dalam
sujud cinta
Dan perjuangan menggapai surga kekal diakhir kisah dunia
Kutulis kisah duka Acehku
tercinta
Dalam goresan pena ketabahan di
sisi lautan yang berduka
Mengenang saudara kita yang
berpulang ketika tsunami menerjang
Dalam gelombang bencana alam 26 Desember beberapa tahun silam