Wednesday, December 31, 2014

Aceh Berduka



Segaris lurus hamparan banyu biru lautan
Tenang…..
Hanya bernadakan ombak kecil yang hadir bergantian
Mengisi keheningan pantai yang terkadang larut dalam  riuh kebisingan
Manusia manusia pencari kebahagiaan 
Tertawa bersama ombak yang menyapa..
Tak ada kekhawatiran…..
Hanya kebahagiaan dan kesenagan yang lekat dalam bayangan

Tapi apa yang terjadi……..
Ketika keindahan berubah menjadi kehancuran
Minggu 26 desember
Kiamat sugra menghantam setitik  ranah Nusantara
 Aceh berduka…..
Gempa  meluluh lantakan ujung pulau Sumatra
Hingga mengundang ombak murka dari sisi laut yang bersahaja
Tsunami tiba menghantam para korbanya…..
Mengundang si hitam pencabut nyawa
Menjemput jiwa-jiwa..
Hingga bayi bayi tanpa dosa merenggang nyawa
Hilang sudah kesempatanya bermanja dalam dekapan ayah bundanya
Jerit kesakitan manusia mengema bersama teriakan duka
Yang mengaharap iba dari Allah sang pengusa takdirnya

Masih lekat dalam renungan duka…..
Jasad  saudara kita terkapar bersama sejuta luka
Bisu…Membeku dalam mimik wajah yang terekam diakhir hayatnya
Menyayat hati dunia yang memandang kepedihannya
Darah tak lagi merah ….
Segalanya menyatu bersama lumpur dan air mata
Dari tangisan duka para penduka yang kehilangan keluarga

Yatim piatu menjerit ketakutan  dalam sejuta tanya
Ayah di mana….ibu di mana?
Dimana segala keindahan yang dahulu kami punya?
Segalanya  terkubur di bawah nisan tanpa ukiran nama
Kebingungan ,tanpa arah dan tujuan
Mencari…mengais  puing-puing kebahagiaan yang pernah ia rasakan

Tapi apa mau dikata, kuasa Tuhan diatas segalanya 
Hidup mati kita atas kehendak takdir-Nya
Jangan pernah menyalahkan alam apalagi Sang Pencipta
Yakinlah  pada skenario takdirnya
Berserah dan berusahalah dalam sujud cinta
Dan  perjuangan menggapai surga kekal diakhir kisah dunia

Kutulis kisah duka Acehku tercinta
Dalam goresan pena ketabahan di sisi lautan yang berduka
Mengenang saudara kita yang berpulang ketika tsunami menerjang
Dalam gelombang bencana alam 26 Desember beberapa tahun silam




Ibu



Sejenak dalam kesunyian
Perlahan dalam diam kualihkan pandangan
Tertegun pada sesosok wanita 
Bersahaja dalam letihanya
Kupandangi lekat lekat wajah indah itu
Tergambar jelas ada guratan sendu 
Terlihat jelas ada gundah yang coba ia sembunyikan dariku
Ibu.....
Betapa megah takdir Tuhan untukku
Menghadirkanmu dalam hidupku
Menciptakanku dalam kisah hidupmu
Ibu..
Segalanya rela kau korbankan
Bahkan  getirnya kehidupan kau anggap sepenggal perjuangan
Demi menjemput kebahagiaan buah hati yang kau banggakan
Ibu…
Dalam keteduhan tidurmu
Kuresapi ada kekhawatiran dibenakmu
Maafkan anakmu yang belum mampu menjemput segaris pelangi
Ke sisi senjamu yang kian menepi
Terimakasih ibuku...

Thursday, November 27, 2014

Jalan Kenangan



Jejak kehadiran hujan
Rintik kesedihannya melapisi dedaunan
Membasahi jalan setapak yang rindang 
Terkesan seram dalam keheningan petang
Sunyi menusuk.....
Kian mengundang kepedihan
Menyadari sosoknya
Yang takkan lagi bisa kutemui
Dimanapun...... 
Bahkan disisi jalan kenangan....
Tempat dimana ia pernah membimbingku
Melakukan hal-hal baru
Dan kini kisah itu...
Berubah menjadi sejarah masa lalu
Di sepanjang jalan setapak yang kulalui....
Tergambar jelas segala perasaan
Kenagan tentang sejuta pertemuan
Segala kebahagiaan yang pernah ia perkenalkan
Segala kesedihan juga pernah kam rasakan
Namun….
Ada satu kesan yang kini lekat ia tinggalkan
Selepas kepulanganya
Menghadap Sang pencipta insan
Rindu…..
Perasaan itu kini sering menyapaku
Dalam diam sejuta harapan..
Tengadah tanganku mendo’akanya
Dalam tiap detik yang terus berjalan
Kerap kusisihkan untuk mengenangnya
Ayah...





Monday, November 10, 2014

MARHABAN YA MUHARRAM




Rona senja menari di ufuk merah saga
Merajut untaian salam di puncak dirgantara
Mengakhiri pejalanan dalam langkah pergantian
Menghantarkan dzulhijjah ke peraduan alam
meyusuri  jalur malam
hingga  perlahan riwayatnya padam
Seiring adzan subuh berkumandang

Marhaban ya muharram…
Senada  merdunya lantunan salam
Segala kisah jadi kenangan di tahun silam
Bersama fajar  yang merona
Merekah megah bagai lukisan sukma

Marhaban ya muharram
Lentera alam perjalanan zaman
Syahrullah bertahta kemuliaan
Kini hadir Menutup lembaran kelam
Kisah  insan di tahun silam
Terkunci dalam kenagan
Menyikap tabir kisah masa mendatang
Membuka cakrawala menatap masa depan

Seiring  perjalanan hijriah
Meniti jejaknya yang kian bertambah
Manfaatkan waktu yang tersisa
Menata umur yang hanya sekejap mata
Anugerah terindah dari  Allah tuhan kita
Mecari ridha peguasa jagat raya
Menggapai asa dalam usaha
Bersandar ikhlas dalam doa
Demi menuai surga kekal di akhir kisah dunia



Friday, November 7, 2014

Suara Mahasiswa


Jejak perjuangan para penuntun perubahan
Langkah pengorbanan para penuntut keadilan
Hanya tertinggal dicatatan sejarah kemerdekaan
Ketika sang pejuang menghilang
Terbujur kaku di bawah nisan kematian
Nyawa yang mereka tumbalkan…
Harta yang mereka tinggalkan…
Kebahagiaan yang mereka korbankan…
Terkubur bersama sisa sisa kejayaan
Lenyap bagai terlupakan 

Dan kini ….
Lihatlah tampang baru bangsa ini
Ketika Para petinggi negeri
Hanya sibuk memuaskan  hasrat kantong pribadi
Ketika para pemimpin bangsa
Hanya sibuk menata wajah kepalsuanya
Demi terlihat sempurna di mata dunia

Coba  Dengarkan….
Jeritan  rakyat yang menggema
Di segenap  penjuru nusantara
Menuntut janji surga para pemimpin bangsa
Tak tergugahkan hati kita!
Siapa yang sudi membela??
Siapa yang Memperjuangkan hak mereka?

Buka aku,kamu ataupun mereka
Tapi kita “mahasiswa”
 jangan  hanya gelar semata
Karena nyatanya
Kitalah Pemimpin kaum muda
Pejuang tanpa senjata

Namun …..
Bukan peperangan yang kita ciptakan
Bukan perpecahan yang kita timbulkan
Melainkan semangat kesatuan
Bermodalkan asa di genggaman
Kobarkan  semangat reformasi
Berjuang membangun negeri
Esakan tekat satukan semangat
Berkarya dalam aksi nyata
Memperjuangkan nasib rakyat tak berdosa
Dalam sajak perjuangan kaum muda
Menata masa depan bangsa
Dalam wujud aksi nyata







Torehan asa : Ayu Novianti









Saturday, September 20, 2014

Sampai Disini Takdir Kita


Raga goyah serasa mati
Ketika harus kuteguhkan hati
Mengiringi kepulangan jiwanya
Memenuhi takdir Ilahi Rabbi
Namun....
Kini perlahan mulai kusadari
Takdir umur yang Tuhan hadiahkan
Anugerah terindah yang takkan pernah terulang

Tak secercahpun reda
Gemuruh duka dalam jiwa
Meringis jiwa dalam kesedihan
Mengais sisa-sisa kenangan kita dalam lamunan

Tangisan luka bersama kepulangan yang tercinta
Telah ku ikhlaskan bersama Doa 
Demi kebahagiaannya di pelukan sang pencipta 
Nyatanya hanya sampai disinilah takdir kita


\



Friday, September 5, 2014

Rasa Kehilangan..


Siapkah merelakan
Yang menginginkan
Pergi meninggalkan

Siapkah melepaskan
Yang diinginkan
Sirna tanpa tersampaikan

Siapkah merasakan
Hadirnya rindu tidak tertahankan

Saat yang tertinggal
Hanyalah sepenggal kenangan

Renungkan…
Mampukah kau bertahan
Sebelum hadirnya sepenggal penyesalan
Karna cinta terkadang
Datang bersamaan dengan hadirnya
Rasa kehilangan…







Torehan Asa: Ayu Novianti
Friday,September 05,2014
23;20